Entri Populer

Selasa, 17 April 2018

Kenangan yang Masih Tersisa

Saujana, deretan pohon hijau nan rindang berbaris rapi menyejukkan mata. Sesekali, dari balik barisannya terlihat suguhan laut yang sangat indah dengan gradasi biru toska, begitu serasi dengan pantulan mentari. Tidak bosan kuarahkan pandanganku ke luar jendela mobil, yang kacanya sudah dibuka ini. Memandangi betapa Maha Hebat Tuhanku menciptakan alam dan seluruh isinya.

Memori tentang masa kecilku melintas dalam perjalananku menuju ke Desa Indah Sari. Tahun 1993 Ayah memboyongku dan Ibu ke desa tersebut, karena Ayah mengabdi tugas sebagai seorang pendidik selama 5 tahun.

Di sanalah, aku bertemu dengan orang-orang baru yang sangat ramah dan masih mengandalkan gotong royong. Di sana juga aku mengenal sahabat kecilku bernama, Kira. Gadis berkulit coklat, berlesung pipi, dan rambutnya sering dikuncir kuda. Kemana pun selalu membawa pancing. Kira senang mengajakku bermain ke empang dan sawah. Sebelum pindah, Kira sempat mengatakan sesuatu padaku.

"Jangan lupain persahabatan kita ya, Tiara."

"Iya Kira, nggak akan pernah lupain." Jawabku sambil melingkarkan jari kelingking kami.

Perjalanan kami semakin dekat. Roy mengagumi saujana di kiri kanan jalan, dipenuhi oleh hamparan sawah hijau nan indah. Segerombolan bangau terbang menikmati kebebasannya mengitari langit biru sore ini di antara petani yang masih sibuk di sawahnya.

"Wah, indah. Masih murni." Matanya hampir tak berkedip.

"Hihi... Nggak nyesal kan?"

"Iya dong, aku bisa sekaligus liburan."

Aku tersenyum mendengarnya. Tidak terasa kami sudah memasuki desa Indah Sari. Wow, terlihat asing bagiku setelah 20 tahun berlalu. Tentu akan ada beberapa memori masa kecilku yang terkikis. Kami pun mampir di rumah salah satu warga.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Mau numpang tanya Pak, Ibu. Kalau mau ke sini lewat mana ya?" Tanyaku sambil menyodorkan alamat.

"Silakan duduk, minum dulu dek. Kalau mau ke sini lewat perempatan sana." Bapak itu menunjukkan jalannya.

"Iya dek, lewat sana. Kami baru dua tahun di sini. Tapi, tempat itu masih ada." Timpal si Ibu sambil menyajikan teh hangat untuk kami.

"Oh gitu ya, Bu."

Banyak yang berubah di sini. Rumah dinas yang dulu kutinggali pun kini sudah berubah, dihuni oleh penghuni baru. Pohon jambu yang berada di depannya kini tak nampak lagi. Aku mengamati rumah dinas itu dari kejauhan. Kudengar suara Bapak renta menyapa.

"Neng Tiara?" Tanyanya dengan penuh selidik.

"Iya, Saya Tiara." Jawabku heran.

"Bapak kenal Tiara?" Roy penasaran.

"Iya. Neng Tiara dulu tinggalnya di sini. Nggak nyangka ketemu lagi."

"Ini Pak Kardi. Ingat nggak? Dulu Bapak sama Ibu sering nitipin kamu sama keluarga Bapak."

"Oh Pak Kardi?" Aku mengingat sosoknya setelah mencoba mengorek memori otakku.

"Iya neng." Pak Kardi langsung merangkulku dengan wajah sumringah melepas rindu.

Kini, kami sudah berada di rumah Pak Kardi. Mendengarkannya bercerita mengenai masa kecilku. Pak Kardi juga banyak bercerita mengenai tetanggaku yang sudah menjemput ajal menuju Sang Pencipta. Diceritakannya juga teman masa kecilku yang sudah mengadu nasib ke negeri seberang, dan ada yang sudah sukses duduk di pemerintahan. Tak lupa kutanyakan kabar Kira. Menurut Pak Kardi, Kira dan keluarganya sudah pindah ke Kalimantan, mengadu nasib di sana.

Meski aku tidak bertemu dengannya, setidaknya aku kembali ke desa ini dengan kenangan-kenangan yang masih tersisa. Masa kecil, sahabat, tetangga yang ramah dan baik hati, kesederhanaan, pemandangan yang indah, dan masih banyak lagi. Aku akan membangun sekolah di desa ini sesuai dengan permintaan Almarhum Bapak sebelum meninggal.


#30DWCJilid12 #Day26

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan di coment yah,,,,
Tapi harus memenuhi etika-etika dalam berkomentar ^^
Jangan menggunakan kata-kata kasar maupun menyinggung individu ataupun kelompok,,,, OOOKKK!!! ^^