Entri Populer

Rabu, 18 April 2018

Sampaikan Mimpimu pada Dunia

Setiap orang di dunia ini pasti memiliki mimpi. Bahkan orang sukses yang kita lihat saat ini adalah orang yang memulai hidupnya dari sebuah mimpi. Meski, tidak selamanya impian mereka diapresiasi. Bahkan diremehkan berulang kali. 

Namun, percaya atau tidak, impian yang kita miliki bisa terwujud menjadi kenyataan jika kita percaya bahwa impian itu nyata. Asalkan disertai dengan usaha dan doa. Jangan merasa kerdil impianmu dicaci. Jangan biarkan perkataan orang lain di dunia ini menghentikan langkahmu. Tunjukkan bahwa itu benar-benar terealisasi.

Bung Karno pernah mengatakan, "Bermimpilah setinggi langit. Jika pun terjatuh, maka kamu akan terjatuh di antara bintang-bintang." 

Wujudkan impianmu hingga kamu tidak mampu lagi mewujudkannya. Banyak orang takut bermimpi, karena takut gagal dalam meraih. Padahal, itulah proses yang harus dilalui. Tidak ada yang mudah didapatkan di dunia ini. Kita makan pun, ada prosesnya. Harus kerja dulu cari uang, beli beras, beli lauk, masak, baru bisa makan. Makan mie instan saja, tetap butuh proses agar bisa dinikmati. Begitu juga dengan impian yang kita miliki.

Siapa yang tidak kenal penulis buku best seller Ahmad Rifa'i Rif'an? Dalam bukunya 'Man Shabara Zhafira', dituliskan bahwa  tantangan akan selalu ada dalam meraih impian. Maka, jadikanlah tantangan tersebut membran tipis yang dapat dengan mudah dilalui, bukan menjadikannya sebagai dinding pembatas antara sang pemimpi dan tujuannya.

Penuhilah hidup ini dengan impian-impian yang besar. Jangan takut akan apa yang dibicarakan orang. Justru semakin diremehkan dan dikerdilkan, semakin kuat mental dan maju ke depan. Ada Tuhan Maha Hebat yang telah menciptakan alam dan seluruh isinya. Tuhan saja mampu menciptakan itu semua, apalagi cuma sekedar mengabulkan doa umat-Nya. 

Jadi, mintalah pada Tuhan dengan keyakinan yang begitu besar bahwa doamu dikabulkan. Sungguh mudah bagi Tuhan memberikan apa yang umat-Nya minta dan dengan mudah pula Tuhan menariknya kembali. Tidak ada yang mustahil, saat Tuhan berkehendak. 'Kun fa Yakun', 'jadi' maka 'jadilah'.

Sampaikan mimpi itu pada dunia. Lalu, tunjukkanlah bagaimana cara kamu meraihnya. Jangan biarkan impianmu berlalu dan hanya sekedar menjadi bunga tidur saja. Mentor menulis 30 Days Writing Challenge, Rezky Firmansyah pernah menuliskan bahwa impian yang kita miliki harus dideklarasikan. Agar kita tergerak untuk mencapai mimpi tersebut. Baik kita termasuk orang introvert atau ekstrovert, tetap percaya diri akan mimpi yang kita miliki.

Deklarasi bisa dilakukan pada secarik kertas, lalu tuliskan apa isi impianmu. Misalnya, "Tahun ini aku harus bisa menerbitkan minimal dua buku antologi." Nah, deklarasi tersebut difoto dan posting ke media sosial. Agar orang-orang di dunia ini tahu apa mimpimu. 

Barangkali, Tuhan memberikan jalan bagimu untuk mewujudkan impian tersebut melalui tangan-tangan orang yang baik. Bisa jadi, karena orang lain tahu mimpimu, kamu diajak atau ditawari untuk membuat proyek menerbitkan buku antologi atau pribadi. Kita tidak akan pernah tahu. 

Yuk, kawan. Isi hidupmu dengan impian-impian yang besar. Kekuatan mimpi begitu luar biasa bagi mereka yang benar-benar percaya.


#30DWCJilid12 #Day28

Selasa, 17 April 2018

Kenangan yang Masih Tersisa

Saujana, deretan pohon hijau nan rindang berbaris rapi menyejukkan mata. Sesekali, dari balik barisannya terlihat suguhan laut yang sangat indah dengan gradasi biru toska, begitu serasi dengan pantulan mentari. Tidak bosan kuarahkan pandanganku ke luar jendela mobil, yang kacanya sudah dibuka ini. Memandangi betapa Maha Hebat Tuhanku menciptakan alam dan seluruh isinya.

Memori tentang masa kecilku melintas dalam perjalananku menuju ke Desa Indah Sari. Tahun 1993 Ayah memboyongku dan Ibu ke desa tersebut, karena Ayah mengabdi tugas sebagai seorang pendidik selama 5 tahun.

Di sanalah, aku bertemu dengan orang-orang baru yang sangat ramah dan masih mengandalkan gotong royong. Di sana juga aku mengenal sahabat kecilku bernama, Kira. Gadis berkulit coklat, berlesung pipi, dan rambutnya sering dikuncir kuda. Kemana pun selalu membawa pancing. Kira senang mengajakku bermain ke empang dan sawah. Sebelum pindah, Kira sempat mengatakan sesuatu padaku.

"Jangan lupain persahabatan kita ya, Tiara."

"Iya Kira, nggak akan pernah lupain." Jawabku sambil melingkarkan jari kelingking kami.

Perjalanan kami semakin dekat. Roy mengagumi saujana di kiri kanan jalan, dipenuhi oleh hamparan sawah hijau nan indah. Segerombolan bangau terbang menikmati kebebasannya mengitari langit biru sore ini di antara petani yang masih sibuk di sawahnya.

"Wah, indah. Masih murni." Matanya hampir tak berkedip.

"Hihi... Nggak nyesal kan?"

"Iya dong, aku bisa sekaligus liburan."

Aku tersenyum mendengarnya. Tidak terasa kami sudah memasuki desa Indah Sari. Wow, terlihat asing bagiku setelah 20 tahun berlalu. Tentu akan ada beberapa memori masa kecilku yang terkikis. Kami pun mampir di rumah salah satu warga.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Mau numpang tanya Pak, Ibu. Kalau mau ke sini lewat mana ya?" Tanyaku sambil menyodorkan alamat.

"Silakan duduk, minum dulu dek. Kalau mau ke sini lewat perempatan sana." Bapak itu menunjukkan jalannya.

"Iya dek, lewat sana. Kami baru dua tahun di sini. Tapi, tempat itu masih ada." Timpal si Ibu sambil menyajikan teh hangat untuk kami.

"Oh gitu ya, Bu."

Banyak yang berubah di sini. Rumah dinas yang dulu kutinggali pun kini sudah berubah, dihuni oleh penghuni baru. Pohon jambu yang berada di depannya kini tak nampak lagi. Aku mengamati rumah dinas itu dari kejauhan. Kudengar suara Bapak renta menyapa.

"Neng Tiara?" Tanyanya dengan penuh selidik.

"Iya, Saya Tiara." Jawabku heran.

"Bapak kenal Tiara?" Roy penasaran.

"Iya. Neng Tiara dulu tinggalnya di sini. Nggak nyangka ketemu lagi."

"Ini Pak Kardi. Ingat nggak? Dulu Bapak sama Ibu sering nitipin kamu sama keluarga Bapak."

"Oh Pak Kardi?" Aku mengingat sosoknya setelah mencoba mengorek memori otakku.

"Iya neng." Pak Kardi langsung merangkulku dengan wajah sumringah melepas rindu.

Kini, kami sudah berada di rumah Pak Kardi. Mendengarkannya bercerita mengenai masa kecilku. Pak Kardi juga banyak bercerita mengenai tetanggaku yang sudah menjemput ajal menuju Sang Pencipta. Diceritakannya juga teman masa kecilku yang sudah mengadu nasib ke negeri seberang, dan ada yang sudah sukses duduk di pemerintahan. Tak lupa kutanyakan kabar Kira. Menurut Pak Kardi, Kira dan keluarganya sudah pindah ke Kalimantan, mengadu nasib di sana.

Meski aku tidak bertemu dengannya, setidaknya aku kembali ke desa ini dengan kenangan-kenangan yang masih tersisa. Masa kecil, sahabat, tetangga yang ramah dan baik hati, kesederhanaan, pemandangan yang indah, dan masih banyak lagi. Aku akan membangun sekolah di desa ini sesuai dengan permintaan Almarhum Bapak sebelum meninggal.


#30DWCJilid12 #Day26

Minggu, 15 April 2018

Tuhanku Maha Kaya dan Maha Hebat

Sumber gambar : kharisardi.blogspot.com


Lihatlah hamparan tanah yang luas itu. Ditumbuhi berbagai macam tanaman dan tumbuhan. Hijau warnanya menyejukkan mata. Lihatlah langit itu, birunya yang luas memberi perlindungan untuk berteduh. Lihatlah matahari itu, sinarnya adalah sumber kehidupan manusia. Begitupula dengan air dan udara yang ada.

Lalu, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Tuhan begitu hebatnya hingga menciptakan alam ini dan seisinya sesuai dengan kebutuhan makhluknya. Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Hebat, maka apapun yang kamu minta janganlah yang kecil-kecil. Loh, kok gitu? Kan Tuhan Maha Kaya dan Maha Hebat. Kalau Tuhan saja mampu memberikan hal-hal yang amat besar bagi kehidupan manusia, lantas mengapa kamu tidak percaya diri meminta yang 'besar'? Maka berdoalah kamu wahai sekalian kepada Tuhanmu dengan rasa yakin yang besar bahwa doamu dikabulkan. Sesungguhnya kecil bagi Tuhan mengabulkan doamu menjadi kenyataan jika Dia mengkehendakinya. Jika dia mengatakan 'Kunfayakun', jadi maka jadilah ia.

Tapi tentu, dengan berdoa saja tidaklah cukup agar Tuhan mengabulkan keinginan kita. Doa harus diiringi dengan usaha dan kerja keras. Jika keinginan ingin terkabul dengan berdoa saja maka itu omong kosong. Namun, jika usaha dan keras saja tanpa berdoa, maka itu sombong dengan Tuhan. Namun, bagaimana sudah berdoa bahkan mengerahkan usaha dan kerja keras semaksimal mungkin, tapi hidup tetap saja tidak berubah? Husnudzonlah, bahwa Tuhan mengabulkan doamu di waktu yang tepat. Yang terpenting adalah hidup dalam hati yang kaya akan syukur. Maka, apapun akan terasa cukup dalam hidup.

Nah, kita tahu Tuhan itu Maha Kaya, maka berdoalah dan jemputlah rezki yang telah dijatahkan kepada setiap umat-Nya. Namun, kita harus tahu batasannya. Jangan serakah menginginkan sesuatu hingga lupa pada orang lain. Kita sibuk mencari kekayaan dan berharap segera kaya-sekayanya dengan jalan yang salah. Lihat saja orang yang korupsi. Mereka lupa bahwa mereka tidak sendiri hidup di dunia. Mereka tamak dan begitu serakah hingga tertutup pintu hatinya akan godaan dunia yang fana. Kenapa bisa begitu? Mereka lupa akan Tuhan. Mereka tidak mudah puas. Selalu mencari lebih dan lebih padahal Tuhan telah mencukupkan dengan rezki yang halal. Sehingga mereka mencari jalan lain untuk memenuhi hasrat yang telah 'kesetanan'. 

Kita bisa menghindari diri kita dari hal tersebut. Menghindari diri dari perilaku tamak dan serakah. Contoh sikap yang bisa kita lakukan untuk menghindari perilaku tersebut, misalnya saat kita mengetahui ada pembagian sembako bagi mereka yang tidak mampu. Maka janganlah kita 'ingin ikutan' mendapatkan pembagian sembako tersebut. Apalagi kita tahu bahwa kita tidak pantas menerimanya. Apakah kita ingin berpura-pura tidak mampu, sementara Tuhan Maha Baik memberikan 'kemampuan' bagi Umat-Nya? Hidup janganlah serakah. Berilah kesempatan orang lain yang memang pantas mendapatkan. 

Mungkin adabenarnya sepenggal lirik lagu dari penyanyi legendaris Indonesia, "Bahwa yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin." Bagaimana tidak!? Yang sudah kaya serakah ingin menambah kekayaan, sementara orang-orang yang berada di bawahnya butuh jalan dan uluran tangan untuk hidup yang lebih baik.

Tinggalkan lentera hitam di hati dan hidupmu agar kamu selamat di dunia dan akhirat. Jangan biarkan kau dituntun oleh lentera hitam yang membawamu ke dalam jurang penuh dosa. Terangilah hidup dan hatimu dengan lentera putih agar lebih bersinar. Janganlah kita menutup jalan rezki orang lain yang berada di bawah kita dengan cara yang salah dan haram. Kau percaya Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Hebat, maka mudah bagi-Nya memberi apa yang kita inginkan, dan dengan mudah pula Dia mengambil segala nikmat tersebut. 


#30DWCJilid12 #Day 25

Sabtu, 14 April 2018

Daya Tahan Kekuatan Super

"Nomor 13." Seru seorang wanita berlesung pipi dan berkacamata dari depan pintu ruangan yang tertutup gorden warna hijau tua.

Namun tidak ada jawaban. Wanita itu terlihat memperhatikan kami satu per satu sambil memegang sebuah daftar nama-nama yang sedang antri.

"Nomor 13, silakan." Serunya lagi.

Saling melirik satu sama lain pun terjadi. Barangkali yang duduk di sampingnya adalah pemilik nomor yang sering dianggap sial oleh kebanyakan orang itu. Berbeda denganku, tidak peduli siapa pemilik nomor antrian tersebut. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Begitu cemas dan khawatir apa yang akan terjadi nanti. Apalagi jantungku semakin bertambah ketukannya saat tahu bahwa giliranku sebentar lagi.

"Sekali lagi, nomor 13, atas nama Pak Surya."

Bapak yang duduk sederet denganku dan hanya berselang dua kursi, dengan tergesa maju ke depan. Beliau sepertinya tadi terlalu serius menonton berita yang marak dibicarakan saat ini. Apalagi kalau bukan berita mengenai hebohnya 'puisi konde' itu. Beliau jadi tidak menyadari jika namanya sudah dipanggil tiga kali.

"Saya mbak." Ucap Beliau.

Beliau langsung mengikuti arahannya menuju ruangan yang sejak tadi pintunya tertutup. Terlihat dua tulisan 'Antri' yang ditempel di kiri dan kanan pintu, lengkap dengan tulisan 'Dorong' di sebelah kanan dan beberapa tempelan himbauan. Seperti himbauan agar tidak merokok dan menerima atau menelpon selama di ruang tindakan. Kulihat Beliau masuk, dan aku semakin tidak karuan. Jujur saja, mukaku terlihat pucat, hingga sempat ditegur oleh pengantri yang duduk di sebelahku.

"Tegang ya dek? Kelihatan banget pucat." Ucapnya.

"Hihi... Iya sedikit." Jawabku sekenanya.

"Mau dicabut?"

"Nggak, mau ditambal aja."

Laki-laki tinggi berwajah oriental itu hanya mengangguk, dia memberiku saran agar bersikap tenang, tidak perlu khawatir. Jika saja daya ingatanku tidak kuat, mungkin aku bisa terlihat baik-baik saja. Namun, kalau dia tahu ini bukan yang pertama kalinya aku ke Dentist. Terakhir, saat aku duduk di bangku SMA karena gigiku patah. Aku sampai perawatan gigi selama dua minggu. Perawatan pertama aku mendapatkan dua suntikan. Perawatan kedua jauh lebih sakit, karena aku mendapat empat suntikan yang menurut dokternya gusiku radang dan mudah bleeding, sehingga perlu diberikan tindakan tersebut.

Ya, karena daya ingatku akan hal itu, aku memiliki sedikit trauma. Kukira itu terakhir kali aku menjadi pasien 'Peri Gigi'. Bapak yang tadi masuk sudah keluar dengan raut wajah menahan sakit di pipi kanannya. Sepertinya Beliau tidak berdaya dengan apa yang terjadi di dalam. Hihi.

Sudah menunjukkan pukul 20.00. Sudah 3 jam aku menunggu. Bisa kau tebak, aku butuh hiburan untuk membuat diriku tidak cemas dan bosan. Kusetel lagu yang membuatku semangat dengan lirik yang memotivasi. Beberapa antrian sudah mulai berkurang. Kini hanya tinggal beberapa orang. Keasyikan mendengar musik, aku tentu tidak mendengar saat perawat gigi memanggil namaku.

"Nomor 18." Serunya.

"Nomor 18, atas nama Ibu Tiara.

Sontak saja aku terkejut, karena tiba giliranku. Aku pun langsung masuk dengan wajah tegang. Seorang Dokter cantik bernama Siska menyapaku dengan senyuman. Oke, meskipun tegang setidaknya hari itu, Tuhan memberikanku daya tahan kekuatan super, berupa kesabaran dan keberanian. Daya itu, membuatku bisa tidur nyenyak malam ini bersama peri gigi di alam mimpi.


#30DWCJilid12 #Day24

Jumat, 13 April 2018

Berhusnudzon pada Tuhan

Sumber gambar : u-channel.tv


Kadang, kita nggak akan pernah tahu takdir Tuhan kepada kita seperti apa. Kita bisa mengeluh bahkan menyalahkan Tuhan akan apa yang terjadi kepada kita. Padahal kita tidak tahu, bahwa Tuhan memberikan ujian pada umat-Nya, agar bisa menjadi lebih kuat. 

Ujian yang datang silih berganti, menjadikan kita kuat mental, karena kita pun ditempa untuk terbiasa menghadapinya. Kita juga dapat belajar dari setiap ujian yang datang. Ujian tersebut akan membuat kita naik kelas kehidupan. Seperti halnya kenaikan kelas di sekolah, maka ujian sulit pun diperlukan agar bisa naik kelas. 

Sejatinya, kita harus berhusnudzon pada Tuhan. Tidak menyalahkan Tuhan pada apa yang terjadi dalam hidup kita. Sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi umat-Nya. Selalu yakini bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan umat-Nya. Hadapi ujian tersebut dengan kesabaran, keteguhan, dan kekuatan hati. Semakin dekatkan diri kepada Tuhan, agar ujian tidak terasa berat.

Jangan sebaliknya, ujian yang datang bertubi-tubi malah membuat diri lemah. Kita cendrung menyalahkan Tuhan. Bisa jadi ujian yang diberikan oleh Tuhan, agar umat-Nya lebih dekat pada-Nya. Sudah sejauh mana kita jauh dari Tuhan? Tuhan hanya ingin kita dekat dengan-Nya. Ujian yang ada dalam hidup, merupakan sentilan kecil dari Tuhan agar kita mengingat kepada-Nya. 

Mulailah untuk menjadikan ujian sebagai sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan. Jadikan ujian sebagai suatu hal untuk menjadikan diri lebih sabar, lebih kuat mental, dan teguh hatinya. Berhusnuzdonlah kepada Tuhan.

#30DaysWritingJilid12 #Day23

Kamis, 12 April 2018

Kita Ini Ibaratkan Pelangi

Sumber gambar : pamarta.blogspot.com
Setiap saat kita selalu bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan ini. Entah ketika kita pergi ke kantor, sekolah, maupun ke tempat lainnya. Hal ini disebabkan kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Sangat mustahil di dunia ini kita sanggup hidup sendiri tanpa bantuan siapapun. Oleh karena kita adalah makhluk sosial, maka timbullah interaksi antar sesama.

Interaksi yang terjalin pun harus berjalan dengan lancar. Agar kita dapat melakukan komunikasi dengan baik terhadap orang lain. Namun, tidak jarang interaksi yang dilakukan bisa berjalan tidak lancar. Kadang-kadang di setiap interaksi yang terjadi, kita menemui kendala. Kendala tersebut bisa karena kita tidak mampu menyesuaikan diri, atau karena banyaknya karakter yang dimiliki oleh orang lain yang kita temui. Sehingga, membuat kita kesulitan dalam menyatukan visi dan menyampaikan maksud dari apa yang ingin kita komunikasikan. 

Tahukah kamu? Bahwa dengan adanya perbedaan karakter pada setiap diri orang lain adalah ibaratkan pelangi yang indah dipandang saat warna-warna yang berbeda mau mengalah demi kesatuan. Coba bayangkan, jika semua orang mempertahankan egonya masing-masing? Karena setiap orang yang satu dengan lainnya berbeda karakter. Karakter si A bisa jadi memiliki ego sekian persen, misal 20%.  Sementara karakter si B tingkat keegoisan 50%, bahkan si C lebih parah lagi dengan tingkat keegoisan 100%. Wah, bisa-bisa semua harus sesuai dengan keinginannya tanpa mau memperdulikan orang lain.

Apa yang dapat kita lakukan agar perbedaan warna yang ada tersebut bisa bersatu dan terlihat indah saat dipandang? Yaitu simple dengan saling menghormati dan menghargai orang lain. Kita tahu bahwa setiap orang itu tidaklah sama. Sebab masing-masing memiliki kepala yang berbeda dan karakter yang berbeda. Akan lebih indah jika kita mampu mengalah dengan tidak terlalu egois terhadap orang lain. 

Seperti halnya pelangi yang terdiri dari 7 warna, mejikuhibiniu. Yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Jika saja warna merah berdiri sendiri, maka pelangi tidak akan lagi indah karena tidak memiliki gradasi warna. Hanya merah polos dan monoton. Begitu juga dengan warna yang lainnya. Ketika ke-7 warna tersebut menyatu, gradasi warnanya sangat indah, yang disebut dengan pelangi.

Sudah seharusnya kita dapat menerapkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih dalam kehidupan di mana kita dituntut untuk selalu berinteraksi dengan orang lain yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Mari kita kurangi ego masing-masing dan mencoba untuk selalu menghormati dan menghargai orang lain. Karena setiap orang itu tidak sama. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sudah sepatutnya kekurangan orang lain kita lengkapi begitu juga sebaliknya. Jangan ingin menang dan terlihat hebat sendiri dengan tidak mau menghormati dan menghargai orang lain. 

Ayo, jadilah seperti pelangi yang indah dipandang meskipun berbeda warna.


#30DWCJilid12 #Day22

Selasa, 10 April 2018

Terima Kasih

Sumber gambar : vebma.com


Terima kasih sudah hadir dalam hidupku
Menjadi penerang dalam kegelapanku
Kau kompas dalam setiap langkahku

Terima kasih sudah mencintaiku
Di antara milyaran gadis yang lebih baik di luar sana
Kau memilih aku menjadi princess bagimu

Terima kasih untuk kisah cinta yang kau goreskan
Kau menemaniku dalam petualangan dan perjalanan
Pada tiap lembar kertas kehidupanku

Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku
Yang bersedia berkomitmen apapun yang terjadi
Kuharap kau dan aku bisa menghabiskan waktu bersama hingga rambut memutih 
Hanya terpisah oleh takdir Illahi


Sumbawa Besar,
11 April 2018

#30DWCJilid12 #Day20